Rabu, 01 Maret 2017

Cegah Kerusakan Mata dengan Konsumsi Makanan Ini

Kita semua tahu bahwa mata merupakan salah satu organ tubuh yang memiliki peran vital, yaitu sebagai indera penglihatan. Sayangnya, terkadang Anda lalai dalam menjaga kesehatannya dengan melakukan berbagai kebiasaan buruk, seperti menonton televisi terlalu dekat atau membaca buku di tempat dengan pencahayaan kurang. Akibatnya, kesehatan serta fungsi mata menjadi menurun dan mengakibatkan Anda terkena gangguan penglihatan, seperti mata minus atau rabun.
Untuk mencegah terjadinya kemunduran fungsi penglihatan, ada banyak cara yang dapat Anda coba, salah satunya adalah dengan memperbaiki asupan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh mata. Penasaran apa saja bahan pangan yang berkhasiat untuk menjaga kesehatan mata? Intip poin lengkapnya berikut ini:
1. Wortel
Wortel telah sejak lama dikenal sebagai makanan yang baik dikonsumsi demi menjaga kesehatan mata. Ini dikarenakan tingginya kandungan vitamin A pada wortel terbukti dapat meningkatkan fungsi retina, membantu mata beradaptasi terhadap intensitas cahaya di sekitarnya, serta menurunkan risiko penyakit katarak dan degenerasi makula. Selain itu, kandungan beta keratin pada wortel berperan sebagai senyawa antioksidan yang dapat melindungi sel-sel mata dari radikal bebas.
2. Sayuran hijau
Menurut  jurnal  JAMA  Ophthalmology, konsumsi rutin sayuran hijau, seperti bayam, selada, brokoli, kol, lobak, dan sawi sangatlah dianjurkan demi menjaga kesehatan mata. Mengapa? Karena kandungan antioksidan tinggi yang terkandung dalam sayuran tadi terbukti mampu menyerap sinar biru (spektrum cahaya yang dihasilkan oleh layar gadget, tv, dan komputer) yang berbahaya bagi penglihatan. Di samping itu, sayuran hijau juga mengandung senyawa Lutein dan Zeaxanthin yang berfungsi untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet. Hebat, bukan?
3. Ikan salmon
Jarang yang mengetahui bahwa jika dikonsumsi secara teratur, ikan salmon dapat mengurangi risiko degenerasi makula hingga 38%. Masih kurang? Ini dia manfaat lain dari ikan salmon bagi mata:
  • Omega 3; mencegah mata kering serta penyakit yang disebabkan oleh penurunanfungsi otot mata
  • Asam esensial; berfungsi untuk mengurangi risiko glaukoma dan tekanan tinggi pada bola mata.
  • Vitamin D;  membantu perkembangan fungsi penglihatan janinpada ibu hamil
4. Bawang putih
Meskipun berbau menyengat, namun kandungan Glutathione, vitamin B1, vitamin C, dan selenium pada bawang putih menjadikan umbi lapis yang satu ini baik dikonsumsi oleh mereka yang menginginkan organ matanya tetap sehat. Mengapa? Sebab kandungan zat-zat tadi berkhasiat untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet serta memperkuat sel-sel optik sehingga membuat mata tetap sehat.
5. Dark Chocolate
Selain karena rasanya yang lezat, dark chocolate juga ternyata sangat baik bagi kesehatan mata. Ini dikarenakan kandungan flavonoid di dalamnya berfungsi untuk melindungi pembuluh darah  mata sehingga bagian-bagian mata, seperti kornea dan retina, berisiko rendah mengalami kerusakan.
Semoga bermanfaat!

SUMBER: www.go-dok.com

#sehat itu mudah


Selasa, 28 Februari 2017

BAB Tidak Lancar? Mungkin Ini Penyebabnya

Kesal rasanya ketika BAB tidak lancar karena membuat perut terasa tidak nyaman dan begah. Susah buang air besar, atau yang dikenal juga sebagai konstipasi, adalah kondisi di mana Anda sulit buang air besar secara teratur, tidak bisa benar-benar tuntas,  atau tidak bisa sama sekali. Biasanya, seseorang dikatakan menderita konstipasi ketika total buang hajat kurang dari tiga kali dalam seminggu.
Lalu, apa sih penyebab susah buang air besar? Ternyata, banyak faktor yang memicu kondisi ini, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga faktor psikologis. Mau tahu lengkapnya? Yuk, simak beberapa poin penting berikut ini!
1. Kekurangan serat
Kurangnya asupan serat harian yang diperlukan tubuh dianggap sebagai faktor utama pemicu gangguan buang air besar. Kenapa? Karena pada dasarnya, serat yang berasal dari sayuran hijau dan buah-buahan bermanfaat untuk mempertahankan kadar air dalam tinja sekaligus merangsang gerakan peristaltik kolon. Jadi, mulai sekarang, yuk rutin mengonsumsi sayuran dan buah-buahan!
2. Kehamilan
Sekitar 40 persen wanita hamil mengalami kesulitan buang air besar, terutama pada periode awal kehamilan. Kok bisa? Hal ini disebabkan tingginya produksi hormon progesteron saat masa kehamilan yang memicu pengenduran otot, termasuk otot usus. Hasilnya, ibu hamil cenderung mengalami susah BAB sebab otot ususnya sulit untuk berkontraksi.
3. Menunda BAB
Sering menunda BAB karena alasan sibuk dengan pekerjaan? Hati-hati! Karena kebiasaan ini ternyata memicu konstipasi, lho! Maka dari itu, segerakanlah buang air besar saat perut sudah terasa mulas.
4. Pengaruh obat-obatan
Jarang yang mengetahui bahwa beberapa jenis obat-obatan, seperti suplemen kalsium, suplemen zat besi, obat anti-epilepsi, anti-depresan, anti-psikotik, serta obat-obatan diuretik ternyata dapat menyebabkan konstipasi. Mengejutkan, bukan?
5. Kondisi medis
Tahukah Anda, bahwa dalam beberapa kasus, susah buang air besar ternyata merupakan gejala dari kondisi medis tertentu? Ya, Anda harus waspada jika konstipasi terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, karena bisa jadi hal tersebut merupakan gejala dari penyakit diabetes, sindrom iritasi usus besar, hiperkalsemia (kelebihan kalsium dalam darah), kelenjar tiroid yang kurang aktif, multiple sclerosis, penyakit parkinson, fisura anal, penyakit peradangan usus, kanker usus besar, hingga cedera saraf tulang belakang.
6. Faktor psikologis
Terakhir, kesulitan untuk buang air besar juga bisa terjadi apabila Anda memiliki masalah psikis, seperti stres, cemas berlebih, depresi, hingga trauma.
Setelah mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan susah buang air besar, Anda pastinya bertanya-tanya tentang bagaimana cara mencegahnya. Tenang! Mudah kok cara menjaga agar pencernaan lancar. Pertama, Anda disarankan untuk memperbanyak minum air putih. Mengapa? Karena tubuh yang kekurangan cairan akan memicu penyerapan air berlebih di usus besar sehingga feses  menjadi keras dan kering. Selain itu, olahrga dan konsumsi sayuran hijau serta buah-buahan secara teratur juga dapat memperlancar BAB, lho! Alasannya tidak lain karena dua hal tersebut dapat melunakkan serta mempercepat alur bergeraknya feses.
Semoga bermanfaat!

sumber: www.go-dok.com

Senin, 27 Februari 2017

Serba Serbi Intoleransi Laktosa

www.go-dok.com

Pernahkah Anda merasa mual atau bahkan muntah dan diare beberapa saat setelah meminum susu? Hati-hati, karena bisa jadi Anda menderita intoleransi laktosa! Menurut The Sensitive Gut, buku yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Harvard University, diperkirakan bahwa 70 persen populasi dunia memiliki masalah dengan laktosa”. Ini artinya, kemunculan rasa mual, kram, kembung, dan diare setiap habis mengonsumsi produk susu maupun olahannya merupakan hal yang umum terjadi. Apakah Anda salah satunya?
Apakah sebenarnya intoleransi laktosa itu ?
Laktosa merupakan gula alami yang terdapat dalam susu atau produk olahannya, seperti keju, mentega, dan yoghurt. Nah, intoleransi laktosa adalah bentuk penolakan tubuh terhadap laktosa, karena sistem pencernaan Anda tidak mampu menyerap senyawa ini ke dalam tubuh.
Intoleransi laktosa dan alergi susu sapi
Alergi susu sapi dan intoleransi laktosa adalah dua istilah yang memiliki pengertian berbeda, meskipun keduanya memiliki gejala yang hampir sama.
Alergi susu sapi merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh mengeluarkan reaksi alergi atau menolak protein yang terkandung dalam susu sapi. Sedangkan intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna laktosa (gula dalam susu) karena kekurangan enzim laktase.
Lalu, bagaimana cara membedakan intoleransi laktosa dengan alergi susu sapi?
Intoleransi laktosa dapat disebabkan oleh kerusakan usus karena infeksi virus atau bakteri. Intoleransi laktosa sangat umum pada orang tua. Anda biasanya akan merasakan gejala intoleransi laktosa sekitar 30 menit sampai dua jam setelah menelan susu atau makanan yang berupa olahan susu. Gejala yang mungkin terjadi, yaitu nyeri perut, mual, diare.
Sedangkan alergi susu sapi  paling umum terjadi pada bayi maupun anak-anak dan sangat jarang ditemui pada orang dewasa. Alergi susu sapi merupakan reaksi imunologi. Gejala alergi ini dapat dimulai dalam beberapa menit atau bisa juga muncul dalam beberapa jam. Gejala yang dapat timbul antara lain, yaitu nyeri perut, mual, diare, ruam kulit, bengkak pada bibir.
Lalu, pola hidup seperti apakah yang ideal bagi penderita intoleransi laktosa?
Perlu diketahui bahwa tingkat intoleransi laktosa berbeda-beda pada setiap orang. Lalu, bagaimana caranya menentukan tingkat intoleransi laktosa Anda? Cara paling mudah yang dapat Anda lakukan adalah dengan menghindari konsumsi laktosa selama empat minggu untuk menghilangkan senyawa ini dari sistem tubuh. Kemudian, mulailah menambahkan kembali susu atau keju pada makanan dalam jumlah kecil sambil memonitor gejala yang muncul untuk menentukan berapa jumlah yang dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan masalah bagi tubuh.
Rata-rata, toleransi jumlah laktosa yang dapat dicerna oleh tubuh penderita intoleransi laktosa berkisar di nilai 4 ons. Hal ini sejalan dengan hasil studi yang dilakukan oleh European Food Safety Authority (EFSA) pada tahun 2010 silam. Jadi, agar Anda tetap dapat mengonsumsi susu tanpa memicu timbulnya masalah pada tubuh, maka sangat disarankan untuk mengonsumsi susu atau produk kaya laktosa lainnya dalam porsi yang lebih kecil dari 4 ons.
Atau, solusi lain yang dapat dicoba adalah dengan meminum suplemen enzim laktosa. Dengan cara ini, Anda tetap dapat memperoleh manfaat serta gizi yang terkandung dalam susu tanpa harus mengonsumsinya secara langsung.
Semoga bermanfaat!
sumber : www.god-ok.com

Rabu, 22 Februari 2017

Seberapa Dalam Anda Mengenal Junk Food?


Junk food merupakan  salah satu jenis panganan yang digemari masyarakat Indonesia lantaran rasanya yang lezat. Karenanya, kini banyak restoran cepat saji yang menawarkan pilihan menu jenis pangan ini. Namun, tahukah Anda, bahwa di balik kenikmatannya, junk food mengandung kadar lemak dan gula yang tinggi? Berikut, beberapa fakta penting mengenai junk food yang harus Anda ketahui:
Apa fakta ilmiahnya?
Sebuah penelitian dari Oregon State University yang dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience menemukan bahwa tingginya kadar lemak dan gula dalam junk food berdampak buruk bagi perilaku emosional serta kesehatan seseorang karena dapat meningkatkan risiko timbulnya stres, depresi,  obesitas, hingga hipertensi.
Dijabarkan pula melalui penelitian yang dilakukan Jean Welsh dari Harvard School of Public Health, bahwa junk food memicu peningkatan kadar lemak dalam darah (blood fats) serta mengurangi kolesterol baik di dalam tubuh. Kombinasi dua hal tersebutlah yang membuat Anda rentan terkena penyakit jantung.  Mengerikan!
Risiko umur
Bagi Anda yang masih berusia muda, mungkin terbersit pikiran bahwa usia Anda dapat menjadi tameng sehingga dapat mengonsumsi junk food sesuka hati. Benarkah seperti itu? Salah. Faktanya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pereira, M.A. dan dipublikasikan dalam jurnal Lancet (2005), kebanyakan orang rentang usia 20 – 40 tahun yang mengonsumsi makanan cepat saji lebih dari 2 kali dalam seminggu beresiko tinggi terkena penyakit jantung dan diabetes kelak ketika menginjak usia 50 tahun. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi junk food di usia muda juga akan meningkatkan kemungkinan Anda terkena obesitas. Hasilnya, kondisi kesehatan tubuh di usia tua nanti akan semakin memburuk karena Anda rentan terkena penyakit yang berhubungan dengan berat badan. Tidak ingin hal tersebut terjadi, ‘kan?
Berapakah batas amannya?
Lalu, berapakah batas aman dalam mengonsumsi makanan cepat saji? Demi mengurangi resiko terkena penyakit yang telah disebutkan di atas, memang lebih baik bagi Anda untuk berhenti mengonsumsi junk food secara total. Namun, jika Anda tetap ingin mengonsumsinya sekali-kali, sebaiknya mulai perhatikan beberapa hal, seperti komposisi lemak dan gula yang terkandung dalam satu porsi makanan yang dipesan. Misalnya, saat akan memesan ayam goreng, ada baiknya Anda memilih bagian dada tanpa kulit yang hanya mengandung 120 kalori, 70 mg kolesterol, dan 1.5 gr lemak. Atau, saat Anda ngidam burger, gantilah patty daging sapi dengan daging dada ayam. Mudah, bukan?
Lalu, bagaimana cara menguranginya?
Jika merasa kesulitan untuk berhenti mengonsumsi makanan cepat saji, maka Anda dapat melakukannya secara bertahap. Cobalah beberapa tips jitu, seperti memulai kebiasaan memesan makanan cepat saji dalam porsi kecil, mengurangi frekuensi konsumsi, hingga menghindari topping kaya lemak semisal keju. Selain itu, biasakanlah untuk mengimbangi konsumsi junk food  Anda dengan asupan sayuran dan buah-buahan serta olahraga rutin minimal 30 menit per hari.
Ayo, jaga kesehatan tubuh Anda mulai dari sekarang!

sumber : www.go-dok.com

Selasa, 21 Februari 2017

Bahaya! Jangan Mengucek Mata Saat Gatal


#SEHAT ITU MUDAH
Seperti yang telah diulas dalam artikel Glaukoma sebelumnya, kebiasaan mengucek mata dapat menyebabkan tekanan pada bola mata bertambah. Nah, salah satu akibat yang harus diwaspadai dari hal tersebut adalah meningkatnya risiko Anda terkena glaukoma. Mengerikan, bukan?

SUMBER : WWW.GO-DOK.COM



Senin, 20 Februari 2017

Bunda, Jaga Kesehatan Kandungan dengan Batasi Konsumsi 5 Hal Ini!


Bagi kebanyakan pasangan suami istri, kehamilan adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Tidak jarang, karena terlalu bahagia, sang suami rela memenuhi keinginan istri yang mengidam makanan atau minuman tertentu. Misalnya saat si istri ngidam durian atau mangga muda, tentunya  Anda rela memutar kota untuk menemukan kedua makanan tersebut. Padahal, saat itu bukanlah musimnya. Wah, begitu romantis dan penuh pengorbanan, ya? Eits, hati-hati! Ternyata, ada beberapa bahan pangan yang jumlah konsumsinya harus dibatasi bagi ibu hamil. Tidak percaya? Simak daftar lengkapnya berikut ini, ya!
1. Daging merah.
Bahan pangan pertama yang jumlah konsumsinya harus dibatasi oleh para ibu hamil adalah daging merah. Mengapa? Karena daging sapi, daging kambing, dan daging bebek yang termasuk dalam kategori ini ternyata dapat menyebabkan Toxoplasmosis, yaitu penyakit yang dipicu oleh infeksi parasit langka dan dapat mengakibatkan keguguran serta komplikasi lain pada ibu hamil. Sebagai langkah preventif, sebaiknya Anda bekukan daging mentah terlebih dahulu sebelum kemudian dimasak hingga benar-benar matang. Hal ini dilakukan guna membunuh semua kuman dan mikroorganisme jahat yang ada di dalam daging mentah.
2. Kafein
Tahukah Anda bahwa kandungan kafein di dalam teh atau kopi dapat mengganggu perkembangan si calon buah hati? Jarang yang mengetahui bahwa konsumsi berlebih senyawa ini ternyata memicu bayi lahir dengan berat badan yang rendah. Nah, untuk mencegah hal tersebut, American Pregnancy Association menyarankan ibu hamil untuk menghindari konsumsi kafein di trimester pertama dan mengonsumsi tidak lebih dari 200 mg/hari (sekitar 12 ons kopi) selama kehamilan berlangsung.  Diingat-ingat ya, Bunda!
3. Sushi.
Anda tentunya mengetahui bahwa bahan dasar sushi adalah ikan mentah. Namun, jarang yang mengetahui bahwa di dalam daging mentah tersebut terdapat cacing kecil yang dapat mengganggu pencernaan ibu hamil. Selain itu, sushi berbahan dasar ikan tuna juga dicurigai mengandung merkuri. Hati-hati, Bunda! Karena akumulasi logam berat ini di dalam tubuh Anda dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf si jabang bayi. Tentunya Anda tidak mau hal tersebut terjadi, bukan?
4. Cokelat.
Meskipun sebuah studi dari University of Helsinki mengemukakan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi cokelat menghasilkan bayi yang lebih bahagia dan ceria, namun pakar kehamilan ternama asal Inggris, Clare Byam-Cook, tetap menyarankan ibu hamil untuk mengurangi asupan makanan manis yang satu ini. Sebab, cokelat ternyata dapat meningkatkan risiko obesitas bagi ibu hamil dan janin yang dikandung sehingga memicu timbulnya komplikasi saat proses kelahiran.
Bunda, perlu diingat bahwa semua yang Anda konsumsi akan berpengaruh langsung pada si buah hati di dalam kandungan. Mulai dari sayuran, buah-buahan, susu, hingga junk food dan minuman bersoda. Semuanya akan dirasakan langsung oleh si jabang bayi. Karenanya, yuk, mulai menghindari atau mengurangi konsumsi 5 bahan pangan di atas! Karena bukankah kesehatan Anda dan si buah hati yang menjadi prioritas utama? Semoga selalu sehat, Bunda!

sumber : www.go-dok.com

#sehat itu mudah

Kamis, 16 Februari 2017

Berniat Memiliki Tato? Ketahui Dulu Dampaknya bagi Kesehatan


Tato, seni merajah tubuh ini memang telah lama digandrungi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Semua kalangan, tanpa peduli usia dan status, berlomba-lomba menghiasi tubuhnya dengan berbagai macam ukiran artistik, seperti tulisan penuh makna, simbol-simbol tertentu, gambar orang terdekat hingga lukisan wajah sang artis idola. Di Indonesia sendiri, Anda dapat dengan mudah menemukan studio tato, mulai dari yang berlokasi di kota besar, pedalaman atau bahkan di daerah-daerah wisata. Harganya pun bermacam-macam, tergantung dari jenis alat yang digunakan hingga tingkat kesulitan pembuatan gambar.

Tertarik mengikuti tren merajah tubuh yang satu ini? Ada baiknya Anda simak terlebih dahulu penjelasan lengkap mengenai dampak buruk tato bagi kesehatan berikut ini:

– Rentan infeksi

Tahukah Anda, bahwa prosedur mentato tubuh ternyata membuat kulit Anda lebih rentan terkena infeksi? Seperti yang diutarakan oleh Dr. Luch, infeksi dapat muncul karena pada proses merajah tubuh, seniman tato akan menusuk kulit Anda dengan jarum berulang-ulang kali agar tinta menempel secara permanen. Masalahnya adalah, proses tadi akan menyebabkan beberapa senyawa asing yang terkandung pada tinta masuk ke pembuluh darah dan saraf, hingga akhirnya mempengaruhi fungsi serta kinerja sel imun tubuh. Hasilnya, kulit akan lebih rentan terkena infeksi, bahkan berisiko memunculkan sel kanker di jaringan dermis.

– Reaksi Alergi

Pada beberapa orang, prosedur merajah tubuh dapat menimbulkan beberapa reaksi alergi. Hal ini dikarenakan sistem imun menolak masuknya senyawa asing ke dalam tubuh. Reaksi yang muncul pun sangatlah bervariasi, mulai dari timbulnya bercak-bercak kemerahan, rasa terbakar di permukaan kulit, hingga gatal dan ruam parah.

Selain itu, kurang diperhatikannya tingkat kehigienisan alat serta jarum tato dapat membuat Anda terpapar beberapa penyakit mematikan, seperti tetanus, hepatitis B, dan hepatitis C. Hal ini dikarenakan alat yang dipakai berulang dan tidak dibersihkan secara maksimal berisiko tinggi menjadi tempat tumbuh kembangnya bakteri, seperti staphylococcus aureus dan pseudomonas. Bahkan dapat menyebabkan si pengguna terkena virus mematikan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Mengerikan, bukan?

– Mengganggu tes MRI

MRI /Magnetic Resonance Imaging merupakan prosedur pencitraan tubuh guna mendeteksi jaringan lunak, seperti kista dan tumor. Jarang yang mengetahui, bahwa dengan merajah tubuh, Anda telah meningkatkan risiko munculnya peradangan serta pembengkakan kulit yang terpapar gelombang magnetik saat melakukan tes MRI.

– Sulit dihapus atau dihilangkan

Meskipun saat ini sudah ditemukan teknik laser yang dapat digunakan untuk menghilangkan tato, namun teknologi tersebut masih terbatas pada beberapa warna tinta saja. Selain itu, bagi Anda yang berpigmen kulit gelap, teknik laser tidak akan dengan efektif menghilangkan tato. Setidaknya, Anda harus melakukan prosedur laser sebanyak 3 kali sampai tato benar-benar hilang.

Setelah menyimak informasi berikut, jadi bagaimana masih berminat membuat tato pada tubuh Anda?

sumber : www.go-dok.com

#sehat itu mudah