Senin, 13 Februari 2017
Kulit Anda Berminyak? Ayo Atasi dengan Cara Berikut ini!
Siapa sih yang suka dengan kulit wajah yang berminyak? Hampir setiap orang tidak menginginkannya, apalagi para kaum wanita. Memang, banyak rumor beredar bahwa wajah yang berminyak menyebabkan tampilan terlihat awet muda. Namun, jika tidak dirawat, kulit muka yang berminyak justru akan memicu munculnya jerawat dan komedo.
Sejatinya, minyak pada wajah berasal dari kelenjar sebaceous. Beberapa faktor, seperti pengaruh hormon wanita, datang bulan, stres, cuaca yang panas, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan yang mengandung minyak, santan, dan lemak yang tinggi terbukti meningkatkan kerja kelenjar sebaceous sehingga minyak atau sebum yang dihasilkan pun berlebih. Hasilnya, pori-pori wajah tersumbat sehingga Anda rentan terkena jerawat maupun komedo. Lantas, bagaimanakah cara menangani minyak berlebih pada wajah? Yuk, intip cara jitu berikut ini:
1. Gunakan bedak obat atau bedak tabur
Tahukah Anda, bahwa bedak obat tidak hanya mengandung asam salsilat dan glikoat yang mampu menyerap minyak, namun juga dapat menjaga kulit wajah agar tetap lembap? Jika tidak ada persediaan bedak obat di rumah, pilihlah bedak tabur untuk diaplikasikan ke wajah. Teksturnya yang ringan tidak akan menyebabkan penyumbatan pori yang menjadi cikal bakal munculnya jerawat dan komedo.
2. Bersihkan wajah secara rutin
Kotoran, debu, dan bakteri yang menempel pada kulit wajah terbukti dapat menyebabkan wajah menjadi berminyak. Untuk mengatasinya, Anda disarankan untuk membersihkan wajah minimal 2 kali sehari. Eits, tapi jangan terlalu sering, ya! Karena kebiasaan membersihkan wajah secara berlebih justru akan membuat wajah Anda semakin berminyak.
3. Selektif pilih produk kecantikan
Bagi Anda yang memiliki wajah berminyak, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih produk kecantikan. Pertama, gunakan krim atau lotion berlabel oil-free .Selain itu, pilihlah pembersih wajah yang mengandung asam glikolat dan beta-hidroksi, sebab dua senyawa tadi terbukti dapat mengurangi produksi minyak wajah serta menghalau timbulnya jerawat.
4. Gunakan masker wajah alami
Agar wajah Anda terhindar dari minyak berlebih, gunakanlah masker yang terbuat dari bahan-bahan alami, seperti madu, tomat, dan apel. Mudah, kok, cara membuatnya! Untuk masker apel, misalnya, Anda cukup menghaluskan 1 buah apel lalu mencampurkannya dengan 3 sendok madu. Jangan lupa untuk mendinginkan terlebih dahulu masker di kulkas sebelum diaplikasikan ke wajah, ya! Jika dilakukan secara rutin, niscaya Anda akan terhindar dari wajah berminyak. Mudah, bukan?
5. Rutin meminum air putih
Sering disepelekan, kebiasaan meminumm air putih dalam jumlah yang cukup ternyata baik bagi kesehatan wajah. Lho, kok bisa? Sebab mineral yang terkandung dalam air putih ternyata tidak hanya bagus untuk melancarkan metabolisme tubuh dan kulit wajah, namun juga dapat membantu regenerasi sel kulit serta melembapkan kulit secara alami.
Selamat mencoba!
sumber : www.go-dok.com
#sehat itu mudah
Kamis, 09 Februari 2017
Stop Buang-Buang Makanan!
![]() |
| www.go-dok.com |
Meski terdengar sederhana bagi sebagian
orang, namun kebiasaan menyisakan makanan bukanlah kebiasaan yang baik
untuk dilakukan oleh siapapun. Dampaknya, baik anak-anak maupun orang
dewasa akhirnya menganggap perilaku ‘mubazir’ ini sebagai sesuatu yang
wajar dan lumrah dilakukan. Beragam alasan digunakan, mulai dari rasa
masakan yang kurang sedap di lidah, sudah terlalu kenyang, kondisi
makanan yang sudah dingin, sedang menjalani program diet hingga
keterbatasan waktu karena kesibukan yang padat. Faktanya, masih banyak
penduduk di Indonesia dan belahan bumi lain yang tidak seberuntung kita
hingga menyebabkan mereka kekurangan bahan pangan, sehingga tidak mampu
memenuhi kebutuhan kalori mereka dengan makan tiga kali
sehari. Menyedihkan, bukan?
Selain karena merupakan bentuk ketidak
tenggangan rasa, perilaku membuang-buang makanan juga dapat memicu
timbulnya permasalahan lingkungan akibat semakin menumpuknya sampah.
Dilansir dari Huffington Post, di Amerika Serikat,
persentase jumlah sampah makanan berada di angka yang
mencengangkan, yakni 40 persen. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi,
lebih dari 80 persen dari sampah yang dibuang ternyata masuk dalam
kategori sampah edible (masih layak dimakan). Menurut
Departemen Agrikultur Amerika Serikat, warga Amerika pada umumnya
membuang 40 persen ikan segar, 23 persen telur, dan 20 persen susu.
Melihat besarnya angka persentase di atas saja sudah terbayang, betapa
‘mubazirnya’ jumlah makanan yang terbuang sia-sia!
Masih yakin mau buang-buang makanan?
Mulai sekarang sebaiknya pikirkan ulang kebiasaan buruk tersebut,
berikut beberapa alasan mengapa Anda harus mulai menghentikan kebiasan
buruk ini:
- Sumber pangan kita terbatas.Semakin hari, jumlah populasi manusia semakin banyak. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan jumlah lahan pertanian dan peternakan yang justru semakin sedikit. Hasilnya, ketersediaan pangan tidak mampu mengimbangi jumlah populasi manusia.
- Sia-sia. Selain sia-sia karena membuang makanan yang masih layak dikonsumsi, perlu diingat bahwauntuk membeli satu produk pangan, banyak usaha dan materi yang terbuang. Jadi, ingat ya! Ketika membuang makanan, Anda secara tidak sadar telah membuang-buang uang.
- Memperbanyak sampah.Hampir setiap makanan yang Anda beli dibungkus dengan kemasan yang beraneka ragam, mulai dari kantong plastik, kaleng, kertas, dus, hingga styrofoam. Nah, makanan yang Anda buang beserta kemasannya akan menambah jumlah sampah organik dan anorganik. Hal ini tentunya tidaklah baik untuk kelangsungan lingkungan hidup sekitar karena kaleng dan plastik makanan membutuhkan waktu yang lama atau setidaknya 400 tahun untuk sampai dapat terurai dengan baik atau sempurna oleh tanah.
Jadi, pembaca yang budiman, mulai
sekarang sebelum Anda makan sebaiknya cermatlah dalam menakar setiap
jenis makanan dengan cara menyesuaikan porsi yang ada santap dengan
kebutuhan perut. Tujuannya, agar apa yang ada di piring dapat langsung
dihabiskan tanpa harus dibuang. Ayo, berhenti buang-buang makanan!
sumber: www.go-dok.com
Rabu, 08 Februari 2017
Kanker Serviks
Seperti yang telah kita ketahui bahwa kanker serviks akhir-akhir ini tengah menjadi sorotan masyarakat Indonesia, khususnya kaum hawa. Banyak wanita yang kemudian merasa was-was akan infeksi penyakit mematikan yang satu ini. Lalu, apa sebenarnya kanker serviks itu? Apa saja gejala yang ditimbulkan dan bagaimana cara menanganinya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini:
Mengenal kanker serviks
Kanker serviks merupakan jenis kanker yang menjangkit bagian leher rahim wanita -sebuah jaringan berserat dan berotot yang menghubungkan vagina dengan rahim. Penyakit ini biasanya menyerang kaum hawa yang aktif secara seksual. Meskipun awalnya hanya tumbuh di bagian permukaan leher rahim, namun seiring dengan berjalannya waktu, kanker serviks dapat menyerang bagian leher rahim yang lebih dalam beserta jaringan lain di dekatnya.
Menurut data WHO tahun 2012, setiap tahunnya terdapat 530.000 kasus kanker serviks yang terjadi di dunia, dan 270.000 di antaranya berujung pada kematian. Di Indonesia sendiri, terdapat ±41 kasus kanker serviks yang terjadi setiap harinya; di mana 20 pasien kanker harus meregang nyawa karenanya.
Gejala
Pada stadium awal, umumnya penderita kanker rahim tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, Anda harus mulai waspada jika mulai muncul gejala-gejala seperti :
Perdarahan setelah hubungan seksual,
Perdarahan setelah menopause,
Perdarahan di antara periode menstruasi,
Nyeri perut bawah (area sekitar rahim),
Nyeri saat berhubungan seks,
Keputihan yang berbau dan disertai dengan darah.
Penyebab
99,7% penyebab kanker serviks adalah Human Papiloma Virus (HPV) yang menular melalui kontak seksual yang bersifat vaginal, anal, maupun oral. Jika ditarik garis besar, maka terdapat dua kategori resiko ketika HPV menyerang daerah genital, yaitu resiko rendah dan resiko tinggi. Pada resiko rendah, biasanya virus HPV tidak menyebabkan kanker, namun dapat memicu timbulnya kutil kelamin (kondiloma akuminata). Sedangkan pada resiko tinggi, virus HPV berpotensi besar menyebabkan kanker. Dari semua tipe HPV, tipe 16 dan 18 lah yang berpotensi besar memicu timbulnya kanker serviks. Lalu, kebiasaan apa sajakah yang dapat meningkatkan risiko infeksi HPV? Berikut poin lengkapnya:
1. Berganti-ganti pasangan seksual
Berhati-hatilah jika Anda termasuk orang yang memiliki lebih dari satu pasangan, sebab tipe HPV 16 dan 18 dapat menular melalui hubungan seksual. Meskipun laki-laki tidak dapat terkena kanker rahim, namun mereka dapat membawa HPV dalam tubuhnya.
2. Memulai hubungan seksual sejak usia muda
Penelitian yang dilakukan oleh British Journal of Cancer menyimpulkan bahwa wanita yang memulai hubungan seksual sejak usia dini lebih berisiko terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang mulai berhubungan seks di usia dewasa
3. Merokok
Penelitian yang dilakukan di Sweden’s Karolinska Institute oleh Anthony S. Gunnell dan rekannya menduga adanya keterkaitan antara merokok dengan kanker serviks. Hal ini didasarkan pada bukti bahwa merokok membantu HPV berkembang lebih cepat sebab sel-sel imun tubuh yang semula sehat kemudian mengalami kerusakan akibat paparan zat-zat karsinogen dalam rokok.
4. Riwayat keluarga
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memiliki ibu atau saudara perempuan (kakak/adik) penderita kanker serviks memiliki risiko lebih besar terkena penyakit ini dibanding wanita yang berasal bukan dari keluarga dengan riwayat kanker serviks.
Deteksi Dini (Screening)
Kanker serviks dapat dideteksi dengan melakukan tes Papanicolaou atau yang lebih dikenal dengan sebutan PAP smear dan IVA test.
1. PAP smear test
PAP smear direkomendasikan untuk wanita yang berusia 21 – 65 tahun. PAP smear dilakukan dengan cara mengambil sampel berupa sel serviks. Tujuannya tidak lain untuk mengobservasi apakah ada kemungkinan perubahan pada sel serviks yang mengarah ke kondisi pra-kanker.
2. IVA test.
Pada pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Aplikasi Asam Asetat (IVA test), leher rahim akan dipulas dengan asam asetat 3-5% selama ±1 menit. Bila hasil pemeriksaan ini positif (+) pada sel pra-kanker, maka akan terlihat bercak berwarna putih yang disebut Aceto White Epitelium.
Diagnosis
Apabila ditemukan hasil positif sel pra-kanker pada deteksi dini, biasanya dokter akan menyarankan tindakan biopsi (pengambilan sampel sel) pada leher rahim untuk menegakkan diagnosa.
Komplikasi
Apabila tidak segera ditangani, kanker dapat bermetastasis (menyebar) hingga ke dinding pelvis, kandung kemih, dan rektum. Selain itu, organ tubuh lain, seperti hati, paru-paru, dan tulang juga berisiko tinggi terkena imbas penyebaran kanker.
Penanganan
Perlu diketahui bahwa langkah penanganan kanker serviks sangat bergantung pada stadium, ukuran (besar/kecilnya kanker), serta umur penderita. Pada stadium awal, penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan sel-sel penyebab kanker menggunakan laser. Jika sudah menginjak stadium lanjut, pasien akan disarankan untuk melakukan prosedur operasi pengangkatan rahim secara menyeluruh, atau yang disebut dengan Histerektomi. Sedangkan pada stadium yang sudah lebih parah, penanganan dapat dilakukan dengan terapi kombinasi yang melibatkan kemoterapi dan radioterapi (radiasi).
Pencegahan
Kanker serviks dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti tidak melakukan hubungan seksual sejak usia muda, tidak berganti-ganti pasangan seksual, melakukan pemeriksaan PAP smear minimal setahun sekali, dan menjaga pola hidup dan makan agar kekebalan tubuh meningkat.
Selain itu, tindakan pencegahan juga dapat dilakukan dengan mendapatkan vaksin HPV guna menstimulus tubuh untuk memproduksi antibodi. Pada umumnya, vaksin HPV bekerja sangat efektif karena berisi virus-like particles (VLP’s) yang bersifat immunogenik (meningkatkan produksi antibodi dalam tubuh).
sumber:www.go-dok.com
Ini dia Waktu yang Tepat Untuk Berikan Gadget Anak!
Dewasa kini, penggunaan gadget memang
sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua
kegiatan yang kita lakukan melibatkan penggunaan teknologi informasi
termutakhir ini. Karenanya, tidak aneh jika semua orang, tak peduli tua
atau muda, paham betul cara menggunakan dan mengoperasikan gadget masing-masing.
Karena beragamnya fitur yang ditawarkan, banyak orang tua yang kemudian memberikan buah hati mereka kebebasan untuk memainkan gadget sejak
usia dini. Alasannya beragam, mulai dari ketakutan jika si kecil tumbuh
menjadi sosok yang gagap teknologi, hingga kecenderungan pola pikir
‘asal anak anteng’ yang dimiliki. Bolehkah seperti itu? Menurut Jovita
Maria Ferliana, M.Psi., psikolog dari RS Royal Taruma, orangtua harus
mempertimbangkan di usia berapakah sekiranya pemberian gadget pada anak dirasa tepat. Penasaran? Berikut penjelasan lengkapnya:
1. 0 – 2 tahun
Menurut penilitian, anak usia 0 – 2 tahun tidak boleh diperkenalkan dengan gadget. Kenapa? Karena sinar biru yang dihasilkan layar gadget dapat
membahayakan otak anak. Ada baiknya, di 2 tahun pertama tumbuh kembang
si kecil, Anda sebagai orang tua lebih sering mengajak anak berinteraksi
langsung dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini ditujukan untuk
membentuk serta mengembangkan potensi, rasa percaya diri, serta tingkat
inisiatif anak di kemudian hari.
2. 2 – 4 tahun
Anak dengan rentang usia ini sudah
mulai diperbolehkan mengenal gadget. Namun, ingat! Selalu sesuaikan
konten yang diberikan agar tetap mengandung nilai edukasi. Pilihlah
aplikasi atau permainan yang mengenalkan serta mengajarkan ragam bentuk,
warna, hingga suara. Hal ini ditujukan untuk mengasah kemampuan
visiomotorik buah hati.
Selain itu, Anda juga wajib membatasi
waktu penggunaan gadget pada anak maksimal 1 jam per hari. Mengapa?
Jovita menyatakan bahwa gadget dapat menstimulus
produksi hormon endorphin di otak anak, sehingga jika penggunaannya
tidak diawasi, anak akan menunjukkan gejala-gejala kecanduan.
Mengerikan, bukan?
3. 4 – 7 tahun
Pada usia di atas, anak mulai
berinisiatif untuk mengeskplor segala sesuatu secara mandiri. Oleh
karena itu, orang tua harus memberikan peraturan dan batasan yang jelas
mengenai segala sesuatu, termasuk sebarapa lama gadget boleh digunakan. Jangan biarkan anak bermain gadget lebih dari 2 jam setiap harinya, karena selain dapat mempengaruhi perkembangan emosinya, radiasi dari layar smartphone atau tablet juga akan menganggu perkembangan saraf neuron buah hati.
4. 7 – 10 tahun
Pada usia ini, anak yang mulai memiliki komunitasnya sendiri cenderung akan meminta waktu lebih untuk menggunakan tablet atau komputer pribadi. Meskipun begitu, orang tua tetap harus bersikap tegas dengan terus membatasi waktu penggunaan gadget sehari-hari. Atur waktu penggunaan gadget oleh
buah hati. Jika ia menolak, beri penjelasan yang logis agar anak tidak
tumbuh menjadi sosok pemberontak. Jangan lupa untuk menerapkan sistem reward setiap kali si kecil mematuhi jadwal yang Anda tetapkan, seperti dengan memperbolehkan ia bermain gadget lebih lama di akhir pekan.
Jadi, masih mau membiarkan buah hati ‘sibuk’ dengan gadgetnya sendiri?
sumber : www.go-dok.com
Senin, 06 Februari 2017
Hati-Hati! Ini Dia Bahaya Mengonsumsi Mi Instan Dengan Nasi
Apakah Anda termasuk penggemar mi
instan? Sejak hadir pertama kali di Indonesia pada tahun 1968, mi instan
kini menjadi makanan favorit banyak orang. Hal tersebut tentunya tidak
mengherankan, sebab selain harganya yang ekonomis sehingga terjangkau
oleh setiap kalangan, mi instan juga praktis disajikan. Eits, hati-hati,
lho! Karena dibalik semua kepraktisannya, mi instan ternyata menyimpan
beberapa efek negatif bagi tubuh.
Perlu Anda ketahui, bahwa di tiap bungkus mi instan, terkandung zat benzopyrene yang
merupakan bahan pengawet bersifat destruktif. Awas! Karena jika sampai
terakumulasi dalam tubuh, zat ini dapat memicu perubahan DNA pada
jaringan tubuh sehingga sel dapat berkembang secara abnormal dan
akhirnya memicu kanker. Mengerikan, bukan? Selain itu, para ilmuwan dari
Harvard University menyimpulkan bahwa kebiasaan terlalu
sering mengonsumsi mi instan juga meningkatkan risiko Anda terkena
sindrom metabolik, suatu kondisi di mana tekanan dan gula darah dapat
meningkat tajam secara tiba-tiba. Selain itu, semakin sering Anda
mengonsumsi mi instan, maka semakin tinggi pula kemungkinan terkena
serangan jantung dan stroke.
Hebatnya lagi di Indonesia mi instan
sering dijadikan lauk pendamping nasi putih. Kebiasaan yang dianggap
lumrah ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan? Mi instan, yang
tinggi akan sodium dan lemak jenuh, akan menghasilkan 800-900 kalori
jika dikombinasikan dengan nasi putih. Hal inilah yang membuat pankreas
Anda rentan mengalami gangguan sebab harus bekerja lebih keras. Selain
itu, Anda juga rentan terkena penyakit diabetes sebab tingginya asupan
gula yang masuk ke dalam tubuh.
Selain itu, asupan kalori berlebih dari
kombinasi dua makanan tadi juga akan meningkatkan berat badan. Jika hal
ini dibiarkan terus berlanjut, maka besar kemungkinan Anda akan mengidap
obesitas dan mengalami kerusakan organ hati.
Sebenarnya, konsumsi mi instan tidak
dianjurkan sebab makanan jenis ini kaya akan bahan pengawet dan perasa
buatan. Namun, Anda bisa meminimalisir akibat buruknya dengan mengurangi
kebiasaan memakan mi instan secara bertahap. Selain itu, sangat
dianjurkan untuk tidak mengombinasikannya dengan nasi putih karena
alasan kesehatan di atas. Ayo, mulai hidup sehat dari sekarang, karena
mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati!
sumber : www.go-dok.com
Minggu, 05 Februari 2017
Ayo, Jaga Kesehatan Keluarga Anda Selama Liburan!
Libur panjang di akhir pekan pastinya menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh Anda sekeluarga. Banyak rencana menyenangkan yang dapat dicoba, mulai dari berkumpul bersama sanak saudara hingga berlibur mengunjungi tempat wisata bersama. Namun, Anda harus berusaha ekstra untuk mempersiapkan seluruh anggota keluarga sebelum pergi berlibur, terutama mengenai kesehatan mereka. Mengapa? Karena jika ada satu saja anggota keluarga yang sakit, seluruh agenda liburan bisa hancur berantakan.
Lalu, bagaimana cara menghindari hal tersebut? Tenang, ini dia beberapa tips bermanfaat yang patut dicoba agar Anda dan keluarga terhindar dari serangan penyakit selama liburan:
1. Perbaiki pola hidup harian
Sebelum berlibur, ada baiknya Anda mulai memperbaiki pola hidup harian agar tubuh bugar serta siap melakukan perjalanan jauh saat berwisata nanti. Ada beberapa cara yang dapat dicoba, mulai dari berolahraga secara teratur, tidur tepat waktu, hingga mengonsumsi makanan kaya gizi dan nutrisi. Jika pola hidup ini dibiasakan, tentu Anda dan keluarga akan terhindar dari berbagai infeksi virus dan bakteri pemicu penyakit.
2. Rajin konsumsi sayuran hijau
Tahukah Anda bahwa sayuran dengan kadar klorofil tinggi sengatlah baik bagi kesehatan tubuh? Sayur semisal bayam, brokoli, sawi, mentimun, dan seledri terbukti tidak hanya dapat meningkatkan sistem imun, namun juga mengoptimalkan proses detoksifikasi tubuh. Karenanya, yuk, ajak keluarga untuk rutin mengonsumsi sayuran jenis ini setidaknya 2 minggu sebelum liburan Anda dimulai!
3. Lakukan tindakan pencegah flu
Salah satu hal yang harus Anda waspadai saat berlibur panjang adalah datangnya flu. Penyakit ini mudah sekali menyerang di kala daya tahan tubuh sedang lemah. Karenanya, ada baiknya Anda melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti dengan rutin meminum campuran teh hangat dan jahe. Jika langkah tadi dirasa kurang, maka Anda dapat mencoba solusi lain, yaitu dengan mendapatkan vaksin flu dari rumah sakit terdekat.
4. Cuci tangan dengan sabun
Bakteri penyebab penyakit dapat menginfeksi Anda dan keluarga di mana saja dan kapan saja. Menyeramkan, bukan? Oleh karena itu, biasakanlah untuk mencuci tangan sesudah dan sebelum makan atau setelah menggunakan toilet. Jika memang perlu, Anda juga dapat membekal cairan antiseptik agar dapat digunakan setiap saat. Mudah, bukan?
5. Gunakan masker
Christoper Stanford, seorang associate professor dari University of Washington, menyarankan untuk selalu menggunakan masker di tempat umum, seperti terminal dan taman kota. Hal ini penting dilakukan, karena bakteri bisa saja menular melalui mulut dan hidung. Jadi, tidak ada salahnya Anda berjaga-jaga dengan selalu memakai masker.
6. Bawalah minyak kayu putih
Anda sebagai orang tua pasti paham dengan fakta bahwa buah hati sering merasakan pusing dan mual ketika melakukan perjalanan jauh. Untuk mengatasi hal tersebut, sangat disarankan untuk selalu membekal minyak kayu putih selama berwisata. Mengapa? Karena aromaterapi serta hangat yang dikeluarkan oleh minyak yang satu ini dapat meredakan rasa mabuk anak. Mau coba?
Itu dia beberapa tips jitu yang dapat Anda praktikkan menjelang liburan. Selamat bersenang-senang!
sumber : www.go-dok.com
Rabu, 01 Februari 2017
Kejang Demam
Jika alur pengiriman informasi ini terganggu, maka akan timbul gangguan atau keabnormalan gerakan yang ditandai dengan otot-otot tubuh yang berkontraksi dengan tidak terkendali, atau yang lebih dikenal dengan kejang. Lalu, apa yang dimaksud dengan kejang demam? Apa yang harus dilakukan jika buah hati atau kerabat mengalami gangguan ini? Berikut penjelasannya.
Mengenal kejang demam
Kejang demam adalah kejang yang timbul mendadak dan umumnya dipicu oleh kenaikan suhu tubuh yang tinggi (38 o Celsius atau lebih). Bagi Anda yang memilki buah hati berusia antara 6 bulan-6 tahun, berhati-hatilah, karena kejang demam seringkali menimpa anak rentang usia tersebut.
Berdasarkan gejala yang timbul, kejang demam dibagi menjadi dua jenis, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks.
Gejala
Gejala yang muncul pada kejang demam berbeda, tegantung pada jenisnya. Untuk kejang demam sederhana, gejala yang umumnya muncul adalah:
Timbul kejang umum yang menyerang seluruh tubuh
Tidak sadarkan diri
Mata mendelik keatas
Pernafasan agak terganggu
Mulut berbusa
Kemungkinan ngompol dan muntah
Kejang berlangsung < 15 menit
Pasca kejang,anak akan tampak diam, mengantuk, kemudian tertidur beberapa detik atau menit. Namun setelah itu, buah hati akan pulih seperti biasa
Tidak ditemukan kelainan fungsi saraf sebelum maupun sesudah kejang
Kejang tidak berulang dalam 24 jam
Kejang tidak berulang > 4 kali dalam setahun
Sedangkan gejala yang muncul pada kasus kejang demam kompleks meliputi:
Kejang tidak umumkarena menyerang salah satu bagian tubuh saja, misalnya lengan.
Kejang berlangsung > 15 menit
Kejang berulang dalam 24 jam
Kejang berulang > 4 kali setahun
Penyebab
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyebab utama kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam sendiri biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus pada organ tubuh yang akhirnya menyebabkan gangguan, seperti radang saluran pernafasan (batuk pilek), infeksi saluran pencernaan (mencret), otitis media, pneumonia, dan infeksi saluran kemih. Penyebab kejang demam lainnya dapat dikarenakan dehidrasi yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan air-elektrolit, pemberian imunisasi (DPT, MMR, campak, dll), serta efek penggunaan obat-obatan tertentu seperti difenhidramin, antidepresan trisiklik, amfetamin, dan kokain.
Meskipun hubungan pasti antara demam dengan kejang demam belum diketahui, namun para ahli menyimpulkan bahwa faktor genetik merupakan alasan utama mengapa anak dapat terkena kejang demam sedangkan yang lainnya tidak.
Komplikasi
Walaupun kejang demam tidak akan menyebabkan gangguan parah, seperti kerusakan otak atau cacat fisik/mental, Anda tetap harus berhati-hati karena kejang demam dapat berulang. Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko kambuhnya kejang demam:
Kejang pertama anak dimulai dengan demam bersuhu rendah
Pendeknya periode waktu antara kemunculan demam hingga timbulnya kejang
Anak memiliki anggota keluarga dengan riwayat kejang demam
Usia anak kurang dari15 bulan pada saat kejang demam pertama kali muncul
Diagnosa
Meskipun tidak mengakibatkan komplikasi berat, kejang demam harus tetap ditangani dengan cepat dan tepat. Jangan lengah! Sebab di tahap pemeriksaan, gejala penyakit yang terdeteksi biasanya hanya berupa penyebab munculnya demam. Karena itu, biasanya dokter akan menyarankan beberapa bentuk pemeriksaan lanjut, seperti pengambilan sampel darah atau urin, X-ray, EEG, CT Scan kepala, atau pungsi lumbal. Tujuannya adalah untuk mencari penyakit yang menyebabkan munculnya kejang.
Pengobatan
Mengingat penyebab utama kejang demam adalah suhu tubuh anak yang meningkat secara drastis, maka langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol. Jika kemudian timbul kejang, maka disarankan untuk memberi obat anti kejang, semisal diazepam rektal. Selain itu, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan jika si kecil menunjukkan gejala kejang demam:
Tetap tenang dan tidak panik
Pastikan pakaian anak kendur
Bila kesadarannya mulai menghilang, miringkan badan anak sambil terus bersihkan muntahan atau lendir darimulut atau hidung
Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulutanak
Ukur suhubadan anak sambil terus observasi dan catat durasi kejang
Segera bawa buah hati ke dokter atau rumah sakit terdekat jika kejang tidak berlangsung lebih dari 5 menit
Jika anak menunjukkan gejala kejang demam kompleks, maka dokter mungkin akan menyarankan terapi antikonvulsan continuous untuk jangka pendek. Ini dilakukan untuk menghindari kerusakan pada area otak dan untuk mencegah timbulnya kembali kejang di waktu mendatang.
sumber : www.go-dok.com
Langganan:
Postingan (Atom)
